Rabu, 06 Februari 2013

aku telah menghabiskan waktu 10 tahun untuk membencimu

Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!.


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

aku ingin mencintaimu secara sederhana

tuhan kenapa rindu ini terlalu sakit jika tak terbalas?
aku ingin dia yang dulu..
yang menyayagi dan mencintaiku
tuhan... dimana dia yang dulu
sampai kapan ini akan berakhir?
sudah hampir 1 bulan aku kehilangannya
tapi belum juga aku bisa melupakannya

tuhan, harus sampai kapan aku seperti ini
kenapa aku belum bisa melupakan dia
kenapa dia terlalu berarti untukku










apakah aku harus mencintainya secara diam...

tapi aku belum mampu..
aku bukan manusia tangguh yang ketika ditinggalkan oleh mu bisa tegar
aku tak terlalu lemah
terkadangpun aku sering menangisi kepergiamu dimalam2 sepiku



kasihku....
terlalu bersalahkah aku hingga kata maaf itu tak berarti lagi untukku


Apakah Aku Sudah Tidak BisA Lagi Untuk Merindukanmu

kenapa?? kenap ini bisa terjadi padaku
kenapa kau menghilang dari hidupku
kenapa kau berlalu dari jangkauanku...

kemana, kemana cintaku yang dulu
yang selalu ada disampingku saat aku merindukannya
saat aku membutuhkannya

Tuhan, sudah tak adakah lagi kesempatan untukku memperbaiki semuanya??
memperbaiki segala salahku terhadapnya
kenapa aku sudah tak bisa lagi merindukannya
merindukan pelukannya...

aku memang egois, karena dengan keegoisanku aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu
tak ingin engkau berpaling dariku
apakah aku salah???
maaf...

aku ingin memilikimu, tapi ada hal yang mencegahku
aku ingin mencintaimu tapi aku takut engkau terluka lagi karenaku
apakah aku salah...........

aku ingin terlihat mulia
dengan mencitai dan melepaskan
tapi hatiku belum sanggup

apakah aku salah jika mencintaimu
apakah aku salah jika merindukanmu
jika aku salah, tolong hapus rasa ini
andai aku bisa memilih aku  juga tak ingin cintaku menyakitimu
maafkan aku......

Senin, 04 Februari 2013

lagu galau

ciapa yang disini lagi galau??
aku punya beberapa lagu yang bisa membuat kamu menangis karena kata-katanya menyentuh banget ??
ada lagu barat, indonesia, malaisia dan juga korea
kalian bisa juga share disini lagu apa yang biasa kalian denger ketika galau
kalo aku lagi galau gini, biasa nya aku denger lagu...

1. HURT  CHRISTINA ANGUELERA
liriknya ... im sorry for blaming you for everithing.. i just connet' do in by  hurt my self 4 hearting u
ceritanya itu tentang,, seorang cewek yang sering kali menyalahan kekasihnya, padahal kekasihnya baik banget, akhirnya cowok itu pergi, tapi cewek itu gak bisa melupakan dia, sering merindukan dia tapi dia uda gak ada lagi disini.. hingga dia minta maaf,
lagu ini buat gw nangis gan, nyentuh banget..... karena gw lagi ngerasain itu

2.   because its u darinya tiffani ( ost film love rain )
ceritanya tntang dia suka sma cowo tapi gak bisa bersama, sedih gan,,,
liriknya,, sarang hana pu ninde sarang hansuwobgu.........

3. telah kuberikan - republik
lirik, tiada guna lagi dirimu untuk kumiliki, tak kan ada lagi kesempatan ku untuk kemabali...
sedih gan,,, seperti cinta yang sia- sia...

4. bila cinta - gio ( ost legenda budak setan)
bila cinta kini tak lagi bermakna yang kurasa kini hanya lah nestapa
ditinggalkan cinta masa lalu,,,,,,
hilangnya cintamu menusuk hatiku, hinggaku memilh cinta yang fana....

pedih gan, apa lagi kalo liat video na di you tube ato dah nonton film na dijamin bakal kebawa mimpi gan!!

5. broken angel, arash feat helena.
llirik. am so lonely broken angel
am so lonely listen to my heart
cerita na tentang cewek yang ditinggal mati suami na tapi dia belum bisa melupakan kenangan bersama suaminya padahal dia uda punya suami baru....

6. love rain - jung gun suk ( ost love rain)
sedih gan,,,, apa lagi waktu gun suk memilih mayungin ceweknya yang terkena hujan daripada mayaungin diri na
liriknya. salang salang salang...... bissori
dugem dugeum dugeum....

7. lovarian- perpisahan termanis
emang band na gak terkenal gan tapi aku liat diaartikel2 banyak yang rekomendasikan lagu ini, waktu aku download pas muterin na semua orang minta dan tanya lagu itu
liriknya. jangan pernah memaksa untuk bertahan ditengah kepedihan
jadikann ini perpisah yang termanis yang indah dalam hidupmu
sepanjang waktu
semua berakkhir tanpa dendam dalam hati
maafkan semua salah ku yang mungkin menyakitimu..

8.tolong izinkan aku sayangimu- angkasa
liriknya aku matinya karna kamu
aaku bahagia mungkin karna kamu
aku terluka karna kamu
kamu segalanya.........

lagu iini punya kenangan gan, 5 tahun yang lalu mantan aku ngasih lagu ini, dalam banget gan,,,,,,,

9. when your gone. avril lavigne
ceritanya dia merindukan kekasihnya utnuk ada disisinya...
liriknya,,, im make ur oc, i miss u.....

10. wish u were here. avril lavigne
i cant be touf, i cant be strong
but withh u is not ...
damn, damn, i wish u were here
dalam gan lagunya.......dengerin aja sendiri ini biasanya menemaniku dalam kegalauan, apa lagi saat malam, dalam kamar, matiin lagu, puterin musik ini,,, bikin mewek gan

11. yo te amo, chayane
ini lagu jaman gan tap kalo liar artinya pasti bakal nyesel kalo dilewtin, coba aja kalo gak pecaya

mungkin hanya itu dulu gan yang bisa gw kasih, karena jujur itu lagu yang paling gw suka dan sering gw puter gak dihp, playlist CP kantor ato di rumh, lagu itu sllu menemani hari2 galau gw

kalo kalian ada lagu yang sering menemani kalian melewati saat2 galau, share juga ya gan



Sayang, Maafkan Aku Telah Menyakiti Hatimu

apakah saya baik- baik saja ketika anda pergi dari hidup saya??
aku rasa tidak, banyak air mata yang telah saya tumpahkan untuk kepergian anda
tapi apakah anda tau??
saya cuma harus berpura- pura kuat ketika bersama anda ketika disamping anda
ketika saya memangang jari tangan anda yang kokoh itu ada banyak rasa yang harus saya tahan
agar air mata tidak tumpah
bagaimana mungkin saya tidak mengingat semua tentang yang pernah kita lalukan walaupun anda telah memilih pergi dari hidup saya???

apakah saya salah jika masih  mencintai anda??
jika masih mengharapkan anda kembali??
maaf karena apa yang saya katakan itu adalah benar...

saya tidak ingin anda pergi walau hanya sejengkal dari hidup saya
saya tak mau anda berkata selamat tinggal untuk saya
karena saya tak bisa tanpa anda....
bisakah anda mengerti itu...

maaf karena kebodohan saya hingga membuat anda menjauh dan pergi
taukah anda, bahwa hal bodoh yang saya lakukan itu adalah untuk membuat anda tetap disisi saya
tapi anda marah dan pergi....
bagaimana cara saya untuk menahan anda tetap disini??
jika semua yang saya lakukan adalah salah dimata anda??

maaf, jika keegoisan saya memaksa anda untuk ada disisi saya
hingga anda tak merasa bahagia dan terluka
maaf jika cinta saya membuat anda tak bahagia disamping saya
maaf untuk kebodohan saya yang membuat anda terluka
maaf untuk menyalahkan anda dalam segala hal yang tak bisa saya lakukan

maaf, maaf, maaf dan maaf...................
apakah anda bahagia jika tak bersama saya??
jika saya memilih tak menunggu anda kembali kepelukan saya??
jika saya benar- benar pergi dari kehidupan anda untuk selamanya
jika saya tak menganggu anda lagi??

maaf, jika saat ini anda menginginkan itu, tapi belum bisa saya kabulkan
karena saya butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini
butuh waktu utnuk bisa melupakan anda

dalam hidup ini hanya ada 2 orang yang membuat saya menangis ketika kehilangan
yaitu ketika dulu dia memilih pergi karena kesalahan saya yaitu 5 tahun yang lalu
dan sekarang ketika anda pergi saya menitikkan air mata
dapatkan anda mengerti bahwa anda adalah orang yang penting dikehidupan saya??
orang yang bisa membuat saya sempurna menjalani hudup
tapi dengan kebodohan saya, membuat anda pergi...........
maafkan saya jika tak mengerti cara mencintai  anda dengan cara yang benar...
maafkan saya yang tak sempurna ini....
maafkan saya yang  sercara langcang masih mencintai anda...
maafkan saya..........


Hurt Christina Anguelera

Seems like it was yesterday when I saw your face
You told me how proud you were but I walked away
If only I knew what I know today

I would hold you in my arms
I would take the pain away
Thank you for all you've done
Forgive all your mistakes
There's nothing I wouldn't do
To hear your voice again
Sometimes I want to call you
But I know you won't be there

I'm sorry for blaming you for everything
I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you
Some days I feel broke inside
But I won't admit
Sometimes I just want to hide
'Cause it's you I miss
You know it's so hard to say goodbye
When it comes to this

Would you tell me I was wrong?
Would you help me understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?
There's nothing I wouldn't do
To have just one more chance
To look into your eyes and see you looking back

I'm sorry for blaming you for everything
I just couldn't do
And I've hurt myself
If I had just one more day,
I would tell you how much that
I've missed you since you've been away

Oh, it's dangerous
It's so out of line to try to turn back time

I'm sorry for blaming you for everything
I just couldn't do
And I've hurt myself

By hurting you

Sabtu, 26 Januari 2013

perpisahan termanis- lovarian

Bila nanti kita berpisah
Jangan kau lupakan
Kenangan yang indah
Kisah kita

Jika memang kau tak tercipta
Untuk ku miliki
Cobalah mengerti yang terjadi

Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
Tuk tetap bertahan
Ditengah kepadihan

Jadikan ini perpisahan yang termanis
Yang terindah dalam hidupmu
Sepanjang waktu

Semua berakhir tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu

Semoga kelak kan aku temukan
Kekasih sejati
Yang kan menyayangi lebih dariku